Esai Pribadi
Eksplorasi Diri: Membangun Diri dari
Pengalaman
Nama saya Bunga Aura Asahy, bisa dipanggil Bunga. Saya lahir tanggal 1 Desember 2005 di Jakarta. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan memiliki dua adik laki-laki yang usianya sekitar 3 tahun dan 5 tahun lebih muda dari saya. Kemudian ayah saya seorang aparatur sipil negara di bidang kebudayaan. Sedangkan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga dan wirausaha yang membuka layanan laundry di rumah.
Saya
mulai masuk Taman Kanak-Kanak (TK) saat berusia 5 tahun. Dimulai ketika saya
masih berada di TK, saya diikutsertakan dalam lomba melukis dan mewarnai. Sejak
saat itu saya mulai tertarik untuk mengasah kemampuan saya dalam melukis. Saya
tumbuh di dalam keluarga yang menggemari kesenian terutama seni lukis.
Dahulu
saya memiliki hobi melukis. Bagi saya melukis adalah kegiatan yang bisa menjadi
wadah imajinasi saya pada masa itu. Tapi sekarang saya tidak lagi melakukannya. Walaupun begitu, saya kecil bercita-cita menjadi dokter.
Setelah itu, pada usia 7 tahun, saya melanjutkan ke sekolah di SDIT Insan Aulia. Sejak sekolah dasar, saya selalu berusaha mencari sesuatu yang baru dengan mulai aktif mengikuti lomba yang diadakan di dalam maupun di luar sekolah, baik bidang akademik maupun non akademik. Saya sangat bersyukur dengan masa sekolah dasar saya karena saya telah diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk terus mengasah kemampuan saya. Saya merasa didukung dan dilibatkan oleh sekolah ketika saya mengikuti lomba dan sebagainya.
Ketika menginjak kelas 3 SD, saya mengikuti perlombaan calistung antar sekolah dasar se-Kota Bekasi, dan ketika itu saya hanya mendapatkan juara tiga dalam perlombaan tersebut. Saya cukup senang, hari itu menjadi hari yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.
Saat menginjak kelas 5 SD, sekolah mendaftarkan saya pada perlombaan menulis surat untuk calon Wali Kota baru Bekasi. Saat itu saya tidak mendapatkan juara mana pun. Hal itu hanya cukup menjadi pengalaman bagi saya.
Saya pikir masa SD ini adalah satu-satunya masa
untuk saya mendapatkan prestasi yang sedikit memuaskan. Karena pada masa ini, sampai
pada saat saya menulis esai ini, saya merasa tidak dapat lagi meraih prestasi dan
mengembangkan kemampuan apa pun. Hanya saat SD lah saya mendapatkan peringkat pertama di kelas. Dari kelas 1 sampai
6, dahulu saya pikir itu cukup memuaskan, tapi sekarang saya rasa itu sangan berharga
karena saya tidak pernah mendapatkannya lagi setelah itu. Hanya saat SD juga
saya dapat meraih predikat juara pada perlombaan yang saya ikuti.
Di luar sekolah, saya juga masih senang menggambar dan mewarnai. Kreativitas dalam seni telah membantu saya untuk mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda. Masih ketika saya berada di bangku sekolah dasar, saya pernah mengikuti perlombaan menggambar di luar sekolah. Saat itu saya tidak terlalu berambisi untuk memenangkan perlombaan. Akan tetapi tanpa saya harapkan, saya berhasil meraih juara tiga dalam perlombaan tersebut. Momen pada saat nama saya disebut oleh juri di atas panggung adalah momen yang tidak terduga. Tentu hal itu juga menjadi pengalaman berharga bagi saya.
Terbilang
lomba tersebut adalah perlombaan terakhir yang bisa saya ikuti. Setelah
menduduki bangku SMP, saya tidak pernah lagi berpartisipasi dalam perlombaan
melukis atau yang lainnya. Sejak saat itu saya merasa jika minat dan bakat saya
akan lukis memudar. Saya mulai berganti minat pada bidang desain dan teknologi.
Saya juga mengganti cita-cita saya
menjadi seorang desainer pakaian.
Setelah lulus SD, saya mendaftar ke SMPI Riyadhus Shalihin yang tidak terlalu jauh dari rumah. Pada masa ini, saya mencoba untuk memperoleh keterampilan akademik dan non-akademik kembali, akan tetapi pada saat itu kenyataannya berbeda drastis. Saya tidak lagi mendapatkan pengalaman seperti saat saya TK maupun SD. Saat itu, bahkan sampai saat ini, saya masih menyayangkan mengapa saya tidak diberi kesempatan untuk terus mengasah kemampuan yang saya miliki. Terhitung pada saat itu, saya hanya pernah mengikuti satu lomba di dalam sekolah.
Pada masa SMP
ini sepertinya adalah masa penurunan prestasi saya. Selama 3 tahun saya tidak
lagi mendapatkan ranking 1 di kelas.
Bahkan saya hanya pernah mendapatkan ranking
7, setidaknya itu yang saya ingat. Karena itu saya mulai merasa bahwa saya
tidak pintar. Saya mulai malas dan sering merendahkan diri sendiri, karena pada
kenyataannya memang seperti itu. Dokter sudah, desainer pakaian sudah, dan cita-cita
saya pun berganti lagi menjadi
desainer interior. Saya ingin membantu orang lain merancang sesuatu yang
mereka impikan. Terlebih lagi untuk diri saya sendiri, saya ingin bisa
menuangkan imajinasi dan inspirasi yang saya miliki ke dalam wujud nyata lewat
rancangan-rancangan yang saya buat nanti.
Hingga pada saat saya lulus, saya tidak pernah mendapatkan
sesuatu yang mengesankan. Akan tetapi, saya tetap bersyukur karena saya
mendapat teman-teman yang baik di masa SMP. Sampai sekarang kami masih menjalin
pertemanan dan berhubungan baik.
Kemudian, saya melanjutkan sekolah menengah
akhir di SMA Al-Hadiid Cileungsi. Sekolah kali ini berbeda karena letaknya
sangat jauh, perjalanannya memakan waktu selama lebih dari 45 menit dari rumah.
Saya pikir saya akan bersekolah di sekolah yang jauh lebih baik dari sekolah
sebelumnya, tapi sepertinya ekspektasi saya tentang sekolah ini terlalu tinggi,
cukup menjadi pengalaman pribadi saja. Meskipun begitu, saya rasa ini adalah
waktu yang menyenangkan sebagai seorang remaja, walaupun tidak se-seru seperti
anak sekolah di luar sana.
Saat ini saya berusia 18 tahun, masih duduk di
kelas 12 SMA jurusan Matematika IPA. Saya telah mengalami perubahan sikap dan mendapatkan lebih banyak pengalaman baik dan
buruk. Saya bertemu lebih banyak teman dengan berbagai macam karakter. Saya
juga menghadapi berbagai masalah dalam belajar dan tugas yang bervariasi, dari
yang mudah sampai yang tidak manusiawi.
Kini saya beralih hobi dengan fotografi, menonton
film, dan bermain game online. Di
awal kelas 11, saya mulai kecanduan bermain “Mobile Legends”. Saya tidak merasa
mengalami penurunan kemampuan belajar karena saya rasa kemampuan saya sama saja
seperti saat SMP dulu. Saya juga mulai menggemari film horror dan thriller, ada
perasaan menegangkan sekaligus menyenangkan saat menontonnya. Pada saat SMA
saya mulai berganti minat dan cita-cita lagi, lebih tepatnya saya kehilangan minat
dan tidak lagi memiliki cita-cita. Lagi pula saya semakin menyadari bahwa saya tidak memiliki kelebihan apa-apa.
Hanya saja saat kelas 10 dan 11, saya memiliki
keinginan untuk berkuliah di jurusan Sastra Inggris. Maka dari itu saya
menyukai pelajaran bahasa Inggris dan mulai mempelajarinya secara mandiri. Akan
tetapi, sepertinya keinginan itu tidak ditakdirkan untuk bertahan lama. Saya
terpilih sebagai salah satu siswi eligible.
Pada saat pemilihan jurusan untuk mendaftar SNBP saya mulai dibuat bimbang.
Bagaimana tidak? Saya yang hanya berada di urutan ke-9 eligible menjadi kesulitan menyesuaikan nilai dengan jurusan yang
ingin saya pilih. Ditambah lagi, saya yang masuk ke jurusan saintek akan sangat
berisiko jika mengambil jurusan soshum, sementara Sastra Inggris masuk ke dalam
rumpun soshum. Itu sebabnya saya tidak bisa lagi berkeinginan untuk masuk
jurusan Sastra Inggris. Setelah melewati kebingungan dan berkonsultasi dengan
yang lebih berpengalaman, akhirnya saya terpaksa memutuskan untuk memilih jurusan
Agribisnis di Institut Pertanian Bogor.
Saya berharap semoga saya bisa lolos SNBP pada
pilihan pertama dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dengan
kuliah di universitas dan jurusan impian.
Sekian potret singkat tentang perjalanan hidup saya.
Selama 18 tahun hidup, saya telah mendapatkan banyak pelajaran berharga dan pengalaman
yang tidak terlupakan. Saya menyadari bahwa saya masih harus terus berprogres,
saya harus lebih yakin dengan pilihan yang saya tentukan, dan menghargai diri
saya sendiri. Saya percaya bahwa setiap langkah yang saya ambil telah membantu
saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya ingin terus belajar,
berkembang, dan memberikan dampak positif bagi orang lain di sekitar saya.
Terima kasih telah membaca esai singkat ini.
Tidak ada komentar: